Minggu, 12 Mei 2013

Everlasting Heart Part 16


Everlasting Heart Part 16

Ketika Ify hendak keluar rumah untuk pergi ke kampus, Ify menemukan sesuatu yang terjatuh di lantai. Itu kan dompetnya Rio! oh, mungkin karena kemarin mabuk, jadi gak sengaja jatuh, pikir Ify. Ify segera memungut dompet Rio yang terjatuh itu.

Dasar Rio ceroboh, gerutunya dalam hati sambil berjalan menuju ke kamar Rio.

Dalam perjalanan ke kamar Rio, hati Ify jadi penasaran banget dengan isi dompet Rio. Kata orang kan isi dompet mencerminkan orangnya. Ify tak dapat ngebendung rasa penasarannya, ia memutuskan untuk melihat dompet Rio, toh dengan dilihatnya dompet Rio isinya juga gak bakalan berkurang. Dompet Rio sangat rapi, disana banyak bertengger kartu ATM, flazz, dan kartu kredit.

“Eh, ada foto saat pernikahan! Ternyata Rio nyimpen!” Ify jadi tersenyum sendiri.
Dibukanya lagi sisi yang satunya.

“Eh, ada foto keluarga. Ada Om Zeth, tante Manda, Rio, dan GABRIEL!!” Yah, gak salah lagi ini kan Gabriel! KOK?! Air mata Ify terus mengalir deras.

APA MAKSUDNYA INI?! Rio dan Gabriel bersaudara?! Ify bergegas mencari sosok Rio untuk meminta penjelasan. Tapi Rio gak ada di kamar! Ify segera mencari di seluruh rumah. Dan benar saja Rio lagi ada di meja makan sambil asik menyantap sarapan pagi.

Rio yang tau Ify ada disitu segera memberikan senyum manisnya. Tapi Rio jadi kaget ketika melihat wajah Ify penuh air mata. KENAPA LAGI?! Tanya Rio dalam hati. Rio bingung melihat kondisi Ify. Ify segera melemparkan dompet Rio kasar ke arah meja makan. Rio langsung tau apa yang membuat cewek satu ini menangis. Rio segera beranjak dari tempatnya semula dan mendekat ke arah Ify.

“Jangan deketin gue!” teriak Ify marah.

“Fy, biar gue jelasin dulu!”

Kini Ify dan Rio sudah berada di ruang tengah.

“Tolong lo jelasin apa maksud dari semua ini! Gue mau semua ini jelas!”

Rio memutuskan untuk menceritakan segalanya. Ia akhirnya menyelam ke kejadian masa lalunya.

“Fy, sebenarnya gue dan Gabriel adalah saudara kandung. Saat itu tepatnya setahun yang lalu gue berpacaran dengan Shilla dan kita memutuskan untuk segera menikah meskipun saat itu usia kami masih sangat muda. Hal ini segera didukung oleh kedua orangtua gue. Mungkin orangtua gue udah tau kalo hidup gue udah gak lama sehingga mereka mutusin untuk ngedukung rencana kami. Beberapa hari sebelum hari H, gue baru tau kalo tubuh gue mengidap penyakit jantung. Dan penyakit gue sudah sangat parah. Dokter nganjurin supaya gue segera menjalani transplantasi jantung karena dengan tranplantasi jantung kemungkinan sembuh 100%. Tapi saat itu gue menolak, gue pingin ngejalanin hidup gue apa adanya. Gue akhirnya mutusin untuk ngasi tau yang sebenarnya tentang penyakit gue sama Shilla. Dan, gue inget reaksi dia saat itu, Dia shock! Gak lama kemudian hari pernikahan tiba, gue masih bingung dengan jawaban Shilla. Gue tau ini sangat tiba-tiba buat dia atpi gue tetap berharap kalo Shilla bakalan mau ngedampingi gue utuk ngejalanin semua ini. Gue berharap dia mau menerima gue apa adanya. Gue berharap dia mau ngasih support. Dan saat itu gue sangat senang ketika mengetahui kemunculannya saat pemberkatan nikah, tapi ternyata gue salah ngertiin! Dia memutuskan untuk pergi ninggalin gue! Itu semua hanya karena dia gak mau ngejalanin sisa hidupnya bareng gue! Bareng orang yang penyakitan yang bentar lagi bakal meninggal!” Rio segera mengusap air mataya. Ify tidak menyadari dengan meminta Rio untuk menceritakan semua ini, sama saja dengan membuka luka lama yang udah hampir sembuh. Ify terdiam. Ia meresapi segala sesuatu yang diceritakan Rio tanpa bergeming. Rio segera mengatur napas untuk segera melanjutkan ceritanya.

“Saat itu Gabriel selaku adik gue sangat ngehibur gue. Usia Gabriel dan gue Cuma beda setahun dan karena itu kita jadi sangat akrab. Gue inget saat itu kalo Gabriel adalah orang yang paling sering minta gue untuk ngejalanin transplantasi jantung. Gabriel saat itu sangat cinta sama lo, Fy. Saat itu Gabriel nunjukin ke gue foto lo dan berbicara..

“Yo, liat! Ini cewek yang gue cintai dan gak lama lagi gue juga bakal jadiin dia sebagai istri gue. Gue udah janji sama diri gue sendiri kalo gue harus ngebahagiain dia. Gimana cantik kan?” ujar Gabriel saat itu dengan bangganya.

“Oh, pantesan lo dari tadi senyum-senyum! Rupanya lo udah nemuin cinta pertama lo?” goda Rio.

“Sok tau lo!” jawab Gabriel lagi.

“Gak lama kemudian Gabriel mengalami kecelakaan mobil dan kecelakaan itu sangat parah. Nyawa Gabriel terancam dan gue ngalamin koma. Saat itu gue rasa gue udah pasti bakal meninggal! Begitu gue bangun dari koma, dokter ngasi tau gue kalo gue udah sembuh 100% dari penyakit gue. Saat itu perasaan gue jadi bercampur aduk antara sedih, bingung, takut, dll. Gue baru tau semuanya kalo Gabriel udah ngasih jantungnya ke gue. Gue ngerasa bersalah! Gue ngerasa kalo gue udah ngebunuh adik gue sendiri! Gue ngerasa telah ngerebut semuanya dari Gabriel! Saat itu gue jadi depresi berat. Gue telah mencoba segala usaha untuk bunuh diri tapi semua usaha gue gagal! Dan gue jadi inget dengan apa yang selama ini menjadi impian terbesar Gabriel yaitu nikahin dan ngebahagiain lo. Kebetulan orangtua kita saling kenal dan mereka mencoba untuk menjodohkan kita anpa perlu berpikir panjang gue langsung nyetujuin karena saat itu yang ada di benak gue hanya bagaimana impian Gabriel itu bisa terkabul. Selama ini gue Cuma menganggap tugas nikahin dan ngebahagiain lo sebagai sebuah kewajiban! Tapi gak tau sejak kapan hati gue jadi berubah dan gue jadi sayang dan cinta beneran sama lo. Meskipun berkali-kali gue mencoba ngomong sama diri gue sendiri kalo lo hanya sebuah kewajiban dan gue gak berhak untuk nyintain lo!”

Ify masih tertegun lemas begitu mengetahui kenyataan ini. Ify memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia masih ingin menenangkan diri maupun menenangkan emosinya. Kenyataan ini begitu membuat Ify merasa begitu jahat sama Gabriel padahal cinta Gabriel teramat besar. Tapi Ify juga gak bisa ngebohongin perasaannya kalo sedikit demi sedikit mulai terbuka untuk sosok cowok yang bernama Rio!

# # # #

Keesokan harinya..

Ify mengemasi pakaiannya, ia ingin kembali ke rumah orangtuanya. Entah mengapa dia seakan tidak dapat menerima kenyataan bahwa Rio adalah kakak Gabriel, cowok yang pernah ia cintai dan pernah menjadi bagian terpenting dalam hatinya. Setelah selesai mengemasi seluruh barangnya, Ify bergegas keluar. Rio yang masih terduduk lemas di ruang tengah pun terkejut.

“Fy, lo mau kemana?” tanya Rio cemas.

“lo gak perlu tau! Ini urusan gue!” tegas Ify.

“Tapi gue masih suami lo! Dan gue berhak untuk tau kemana istri gue pergi!” jawab Rio tak kalah tegas. Ify memandang tajam sesosok cowok di depannya itu.

“Suami?! Kalo lo menganggap gue istri lo, lo gak mungkin tega ngebohongin gue!” jawab Ify diiringi dengan beberapa tetes air mata yang mulai leleh.

“Gue..”

Ify melanjutkan langkahnya.

“Apa lo ngerasa sebegitu nyebelinnya gue, sehingga untuk menjadi istri gue selama sebulan aja lo gak tahan?!” Rio sangat putus asa. Entah apa yang harus ia lakukan untuk membuat Ify tetap tinggal. Langkah Ify terhenti dan membalikkan tubuhnya.

“Lo ingatkan perjanjian kita? Sebulan lagi perjanjian kita akan berakhir dan pada saat itu gue gak akan nahan-nahan kepergian lo. Lo bebas mau ngelakuin apa pun yang lo mau!” lanjut Rio.

# # # #

Beberapa hari terlewatkan sejak Ify mengetahui sebuah kenyataan Rio adalah kakak kandung Gabriel! Dan sampai sekarang Ify ogah ngomong sepatah kata pun dengan Rio. Meskipun mereka seatap dan frekuensi bertemu mereka sangat banyak, Ify selalu ngehindar saat bertemu dengan Rio. begitu juga saat sarapan, makan siang maupun makan malam, Ify memutuskan untuk makan sesudah atau sebelum Rio makan. Paling gak, Ify gak ingin berpapasan atau bertemu muka secara langsung dengan Rio, meski Rio sudah beberapa kalo berniat untuk menjelaskan hal itu tetapi Ify tetap saja menghindar.

“Iya pa, Rio tau. Besok kan? Beres! Rio gak bakalan deh buat malu papa meskipun ini magang kerja pertama Rio.” terdengar suara Rio di ruang tengah. Ify yang hendak mengambil makanan di dapur jelas mendengar perkataan Rio. Besok Rio magang kerja? Tanya Ify dalam hati.

# # # #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar