Minggu, 12 Mei 2013

Everlasting Heart Part 17


Everlasting Heart Part 17

Pagi-pagi Ify sudah mendapati Rio yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan atribut orang kantoran. Ify segera bersembunyi di balik tembok. Ia masih teguh dengan komitmennya untuk tidak bertatap muka dengan Rio. Ify melirik ke arah Rio lagi. Rio sekarang sedang kebingungan memakai dasi! Rupanya Rio tidak memakai dasi, ingin rasanya Ify datang menghampiri Rio dan membantunya memakai dasi. Tanpa sengaja Rio dan Ify bertemu pandang. Ify menatap Rio sendu. Tak lama kemudian Ify segera mengalihkan pandangannya.

# # # #

Saat ini frekuensi pertemuan Ify dan Rio benar-benar berkurang. Meskipun berada dalam satu atap, apalagi mereka sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi. Ify saat ini termenung. Kenapa ada saat ini? Ify merasa ingin sekali kembali seperti dulu di mana setiap hari ada tawa, amukan dan godaan Rio. paling gak itu lebih baik daripada gak berbicara seperti ini.


Lihat yang aku rasa dulu
Menggangguku lagi kini
Kau tak pernah menjawabnya

Dan benar kau pergi
Ingat yang kubayangkan dulu
Kau berjalan menjauh
Kudiam dan berontak rapuh
Ingin aku berhenti dan kembali

Lihat yang kita rasa kini
Kebisuan dan luka perih
Asing, sepi, dan saling menunggu
Kita saat ini..

Sudah seminggu Rio dan Ify hidup dalam kebisuan dan saling menahan perasaan. Sebenarnya Ify udah gak bisa menahannya lagi, dia sudah hampir buka mulut dan menghancurkan pendiriannya ini. Tapi yang anehnya lagi, Rio sudah cuek saja dengan sikap Ify ini, bahkan Rio gak segencar dulu untuk meminta maaf pada Ify. Rio seakan sudah mulai terbiasa dengan sikap istrinya selama seminggu ini. Saat ini Ify bergegas untuk berangkat ke kampus seperti biasa.

Ketika Ify membuka pintu, dia mendapati sebuah surat terdapat di sela pintu. Apa ini? Di depan amplop itu bertuliskan..

Nocturne University’ Schoolarship
Send to : Mr. Rio Haling
Puri Mutiara No. 6
Jakarta-Indonesia

Ini.. ini.. ini.. beasiswa buat Rio?! Ify mulai gemeteran memegang amplop itu. Rio mau pergi ke Aussie lagi?! Ify meneteskan air mata. Kenapa Yo, lo gak mau cerita sama gue? Apa sekarang lo nganggep gue bukan lagi istri lo?!

# # # #

Ify termenung menunggu kepulangan Rio dengan tangan yang masih memegang surat itu. Ify seakan tak percaya sebelum mendengar langsung dari mulut Rio. Tapi sampai sekarang Rio belum juga pulang. Biasanya jam 5 sore ia sudah ada di rumah. Tak lama kemudian terdengar deru mobil berhenti dan seseorang membuka pintu.

Rio sudah pulang. Ify beranjak dari duduknya, tapi begitu Rio melihat Ify, ia berjalan cepat tanpa memedulikan keberadaan Ify.

“Rio! Rio! Gue mau ngomong sesuatu!”

Rio kemudian membaliYon tubuhnya.

“Apa ini Yo?!” tanya Ify sambil menunjuYon amplop itu.

Rio berjalan menghampiri Ify.

“Ini beasiswa yang gue dapet dari Aussie!”

“Gue tau itu! Yang gue mau tau apa lo bakalan nerima beasiswa ini begitu aja?!” tanya Ify keras dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Rio memandang Ify tajam.

“Kenapa gak?! Ini tawaran yang sangat bagus dan gue gak mungkin untuk menolaknya!” jawan Rio langsung.

“Lo bakalan ninggalin Jakarta untuk berapa bulan!?” tanya Ify lagi.

“2 tahun!” jawab Rio singkat.

Apa? Selama dua tahun?! Rio bakalan ninggalin gue selama itu?!

“2 tahun?! Selama 2 tahun lo bakalan ninggalin orangtua lo?! Lo ninggalin kerjaan o?! Lo bakalan ninggalin semua yang lo milikin di sini?!” tanya Ify yang berusaha meyakinkan agar Rio tidak ngambil beasiswa itu.

“Lo apa-apaan sih?! Lagi pula apa yang gue milikin disini gak akan hilang hanya karena gue tinggalin selama 2 tahun! Orang tua gue juga udah ngedukung gue sepenuhnya!” jawab Rio lagi.

Gue Yo?! Gimana nasib gue tanpa lo?! Jerit Ify dalam hati.

“Oh, lo nyemasin perceraian kita?” tanya Rio dingin.

Perceraian?!

“Lo tenang aja. Gue udah nunjuk seorang pengacara buat ngurus perceraian kita! Paling gak sebelum gue pergi, suratnya bakalan beres! Jadi lo gak usah khawatir dengan status lo nanti! Lo bisa bebas bikah lagi!”

PLAK!! Tangan Ify segera mendarat tepat pada pipi mulus Rio. Kali ini Rio keterlaluan!

“Lo kira gue cewek macam apa?! Yang setelah cerai dengan mudah gue nikah lagi!” bentak Ify kemudian.

“Bukannya itu yang lo lakuin sama Gabriel?! Hanya 2 bulan setelah Gabriel meninggal, lo mau nikah sama gue!”

Kenapa dia ngungkit-ngungkit tentang Gabriel?!

“Lo!! Oke, mulai sekarang gue gak akan tinggal disini bersama lo! Silahkan lo urus surat perceraian kita!”

Setelah mengemasi barang-barangnya, Ify pergi dari rumah Rio dengan memanggil taxi. Tak terdenagr sama sekali satu ucapan pun yang keluar dari mulut Rio untuk mencegah kepergian Ify. Ify sedang kebingungan, kemana ia harus pergi malam-malam begini? Apa ke rumah mama dan papa? Paling gak, hanya mereka yang masih Ify ingat. Hanya mereka yang benar-benar Ify miliki saat ini.

Hatimu egois
Kau ingin aku seutuhnya
Namun aku tak bisa memilih di antara dua
Memilih bersama dia atau dirimu

Kita masih bersama
Kita tau nanti akan berpisah
Namun, semenit kita memikirkan itu,
Kita masih saling menggenggam
Memanfaatkan setiap detik sekarang
yang akan hilang

# # # #

Keesokan harinya..

Ify masih terdiam menatap sebuah rumah yang kini ada di depannya itu tapi tak lama kemudian terdengar pintu terbuka. Mama dan papa Ify keluar dengan wajah khawatir melihat putri semata wayangnya ini berurai air mata. Tapi bagaimana mereka tau kalo Ify ada di depan pintu padahal Ify masih belum memencet belnya? Kedua orangtua Ify langsung membawa Ify masuk.

“Fy, kami sudah mengetahui apa yang terjadi pada kalian.”

Hah?!

“Mama dan papa udah tau?” tanya Ify bingung.

Mereka mengangguk bersamaan. Ify memang mereka bergantian.

“Kamu tau dari nak Rio. Beberapa kali dia telepon menanyakan apa kamu sudah sampai di rumah. Dia sudah menceritakan semua permasalah kalian. Semua!” beritahu mama.

“Semua?!”

“Ya semua. Mulai dari perjanjian konyol kalian sampai masalah kalian hari ini.”

“Mama dan papa gak marahin Ify? Maafin Ify udah ngebuat kalian kecewa. Maafin Ify pa-ma.”

“Gak ada yang perlu kami maafin. Mungkin ini memang harus kamu laluin agar kamu dapat dewasa nak. Tapi kami masih berharap agar kalian dapat rujuk kembali.”

“Fy, kamu harus tau. Sesulit apa pun masalah rumah tangga kalian, kalian harus tetap berusaha mempertahankan hubungan kalian. Bagaimana pun seorang istri harus tetap tunduk pada suaminya. Ingat dengan semua perjanjian kalian di gereja! Itu bukan hanya perjanjian semata-mata nak. Perjanjian yang kalian ucapkan sudah dicatat oleh Tuhan.” nasihat papa.

Ify tertunduk lemas.

“Pa, ma, untuk sekarang ini sepertinya mustahil bagi Rio dan Ify untuk rujuk. Maafin Ify..”

Kedua orangtua Ify kemudian memeluk putri semata wayangnya ini.

# # # #

Sejak berada di rumah orangtuanya, Ify sering banget menerima telepon gelap. Ya, telepon yang gak ada suaranya.

“Kring.. kring..” terdengar suara telepon berdering nyaring. Ify yang ada di sana jelas mengangkat telepon itu.

“Hallo!”

Hening. Gak ada suara.

“Halllooo!!” Ify mulai gemas dengan telepon gelap itu!”

“Gak ada kerjaan banget sih?! Heh jadi orang jangan iseng dong!” damprat Ify jutek. Ini bukan pertama kalinya Ify memarahi si penelepon gelap itu. Rasanya kalo dihitung-hitung udah puluhan kali, tapi entah kenapa si penelepon malah tetap aja gak punya urat malu!

“Uhuk.. uhuk..” terdengar dari seberang sana suara orang batuk.

Kenapa mirip sama suara Rio?! Tapi sudah gak ada suara yang terdengar lagi. Kenapa perasaan Ify seakan begitu yakin kalo penelepon gelap itu Rio?!

Lagi-lagi Ify meneteskan air mata. Gue kangen sama lo, Yo!

# # # #

“Non.. non.. Non dapet surat!” panggil Bik Imah begitu melihat Ify yang mau pergi ke kampus.

Ify terdiam. Surat? Dari siapa?

Ify langsung mengambil surat yang diberikan Bik Imah. Amplopnya gede amat?!

Ify penasaran dengan isi amplop itu. Dibukanya pelan-pelan dengan rasa penasaran.

Ify sekan disambar petir di siang bolong. Hari ini memang tepat 6 bulan pernikahan Ify dan itu berarti masa perjanjian mereka sudah habis!

Dan ini surat perceraian yang udah ditanda tangani Rio! Ternyata Rio menepati perkataannya. Tak tertahan lagi, airmata Ify mengalir deras di pelupuk mata.

Sebegitu inginkah Rio bercerai dengan gue?!

# # # #

Ify memutuskan untuk berziarah ke makan Gabriel. Sekalipun Ify belum pernah berziarah ke makan Gabriel. Ini disebabkan karena Ify takut gak bakalan dapat menerima kenyataan kalo Gabriel sudah tiada. Tapi sekarang mentalnya sudah cukup kuat untuk menerimanya. Toh Gabriel selalu hidup di hati Ify, meskipun itu sudah tergantikan oleh Rio. Tapi Ify selalu menyisakan celah di  hatinya untuk Gabriel, pria pertama yang dicintainya. Ify terperangah melihat Rio juga sedang berziarah ke makan Gabriel.

“Iel, maafin gue. Gue gak bisa menuhin impian lo. Gue dan Ify bakalan bercerai. Lo juga tau kan seberapa besar cinta gue buat dia?! Gue sayang banget sama Ify. Gue pingin ngeliat Ify bahagia dan gue pikir dia akan lebih bahagia kalo dia berpisah dari gue!” curhat Rio pada nisan Gabriel. Rio tidak mengetahui kalo Ify saat ini sedang berada di belakangnya dan Ify menangis terharu mendengar ucapan Rio itu.

Tersenyum, tertawa, bahagia
Meneteskan air mat haru,
Berbagi suka dan tangis
Telah kulakukan

Menyediakan diri, menjadi pendengar
Hampir selalu kupenuhi
Merasa saling memiliki dan butuh
mendorong aku memperlakukannya lebih dari
porselan putih..
Menyayangi lebih dari yang bisa dipandang

Melakukan segalanya
Untuk memberinya kemudahan hidup
Yang telah kulakuan semua

Begitu Rio selesai berziarah, Ify segera bersembunyi di balik pohon. Dia tidak ingin Rio mengetahui kalo dirinya sudah mendengar semua ucapannya. Begitu bayangan Rio menjauh, Ify segera mendekat ke makam Gabriel.

“Iel, akhirnya kita ketemu lagi. Gue belum menyadari kalo lo udah pergi selama 8 bulan. Hati gue sakit, sakit banget begitu tau lo pergi. Tapi perasaan itu hilang begitu Rio datang dan ngobatin hati gue yang sakit. Dan tanpa gue sadari, gue udah sayang sama Rio. Maafin gue Iel, karena gue ngedapet sosok lo dari Rio. 2 minggu belakangan ini gue baru tau kalo dalam tubuh Rio terdapat jantung lo. Entah apa itu yang ngebuat gue jatuh cinta sama Rio. Tapi gue udah gak peduli dengan semua itu. Bagi gue, lo dan Rio tetap cowok yang gue cintai. Doain gue agar gue dapat menemukan cinta sejati gue.”

Tak lama kemudian Ify pergi meninggalkan makan Gabriel dengan perasaan lega.

# # # #

“Fy, Ify..” terdengar suara mama panik.

Ify langsung menoleh ke arah datangnya suara. Mama sedang berlari kecil, raut wajahnya seakan ingin memberitahukan berita yang sangat amat darurat.

“Ada apa ma?” tanya Ify gak kalah panik.

“Ify, mama tadi diberitahu sama tante Manda kalo Rio dapet beasiswa. Dan dia akan ngambil beasiswa itu selam 2 tahun, sayang.” Beritahu mama.

“Ify udah tau ma.” Jawab Ify lemas.

“Dan nak Rio bakalan pergi akhir minggu ini!” lanjut mama.

Akhir minggu?! Secepat inikah?!

# # # #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar